Kediri – Budidaya kurma yang selama ini identik dengan negara Timur Tengah ternyata mulai berkembang di Indonesia. Di Kediri, sejumlah petani berhasil menanam kurma yang mampu berbuah dalam waktu relatif cepat, bahkan hanya sekitar tiga tahun sejak ditanam.
Salah satu petani kurma Kediri, H. Arifin, menceritakan bahwa awal mula ketertarikannya menanam kurma berawal dari rasa penasaran apakah tanaman tersebut bisa berbuah di daerahnya.
“Awalnya kita bertanya-tanya apakah kurma bisa berbuah di sini. Tahun 2019 kami sering melakukan wisata edukasi ke Pasuruan. Dari sana kami membeli bibit, kemudian disemai dan ditanam di sini pada tahun 2020,” ujarnya.
Hasilnya cukup mengejutkan. Setelah tiga tahun perawatan, sejumlah pohon kurma yang ditanam mulai berbuah. Beberapa varietas yang ditanam di antaranya Umidahan, Barhee, Mijol, Kolas, hingga KL1 dari Thailand.
Menurut Arifin, varietas yang berasal dari Indonesia atau yang sudah beradaptasi dengan iklim lokal cenderung lebih cepat berbuah dibandingkan varietas impor.
“Yang dari Thailand adaptasinya lebih lama. Kalau yang asalnya dari Indonesia atau sudah lama di sini, biasanya lebih cepat berbuah,” jelasnya.
Saat ini, ia menanam sekitar 66 pohon kurma. Beberapa di antaranya sudah mulai mengeluarkan manggar atau bunga. Pohon kurma jantan juga tetap dipelihara untuk membantu proses penyerbukan agar buah yang dihasilkan lebih besar dan berkualitas.
“Kalau tidak dikawinkan sebenarnya bisa berbuah, tapi biasanya kecil dan pahit. Makanya perlu penyerbukan agar hasilnya maksimal,” katanya.
Dalam proses budidaya, Arifin mengakui ada beberapa kendala yang dihadapi petani kurma di Indonesia. Salah satunya adalah serangan hama, seperti wawung yang juga sering menyerang tanaman kelapa.
Selain itu, ketersediaan air juga menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
“Kendalanya ya hama itu, wawung. Selain itu air juga penting. Kalau air cukup, biasanya perkembangan tanaman juga bagus,” ungkapnya.
Untuk penanaman awal, Arifin membuat lubang tanam berukuran sekitar 1 meter persegi dengan kedalaman 1 meter, lalu diberi pupuk kandang yang sudah difermentasi. Menariknya, setelah itu tanaman jarang diberi pupuk tambahan namun tetap mampu berbuah.
Selain unik, budidaya kurma juga dinilai memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Harga kurma muda di pasaran saat ini sekitar Rp300 ribu per kilogram, sementara kurma matang jenis tertentu seperti Barhee Sukari bisa mencapai sekitar Rp500 ribu per kilogram.
“Kalau pohon sudah dewasa, satu pohon bisa menghasilkan nilai sekitar Rp30 juta per tahun,” jelas Arifin.
Menurutnya, tanaman kurma juga tergolong efisien karena dapat ditanam di lahan sekitar 50 meter persegi per pohon dan masih bisa dikombinasikan dengan tanaman lain melalui sistem tumpang sari.
“Kurma ini sekali tanam bisa untuk selamanya. Capeknya sekali, setelah itu tinggal merawat,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









