Kediri – Puluhan siswa dari tiga sekolah dasar di Kota Kediri mengalami keluhan mual dan muntah usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (22/4). Dugaan keracunan tersebut terjadi di SD Ketami 2, SD Ketami 1, dan SD Tempurejo 1. Usai kejadian tersebut Walikota Kediri Vinanda Prameswati langsung memimpin rapat bersama Satgas MBG untuk menangani kasus ini pada Jumat (24/4).
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun, jumlah siswa yang mengalami gejala diduga keracunan mencapai 69 anak. Rinciannya, 53 siswa dari SD Ketami 2, 11 siswa dari SD Ketami 1, dan 5 siswa dari SD Tempurejo 1.
“Keluhan yang dialami siswa di antaranya mual, muntah, pusing, diare hingga demam ringan. Meski demikian, hingga kini tidak ada laporan siswa yang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit,” Ujar Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati.
Kepala sekolah SD Ketami 2 sebelumnya melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kesehatan Kota Kediri. Menindaklanjuti laporan itu, petugas langsung mengambil sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium.
Hasil pemeriksaan awal menemukan adanya bakteri pada sampel makanan MBG yang dikonsumsi siswa.
“Dari hasil sampel memang ditemukan bakteri e.coli. Secara teknis itu menunjukkan makanan sudah basi,” imbuhnya.
Menu yang disajikan terdiri dari roti bagel, ayam saus tiram, tahu orak-arik, sup kacang merah dan kentang, serta buah kelengkeng. Sampel yang diuji berasal dari satu porsi makanan yang didistribusikan kepada siswa di hari tersebut.
Usai kejadian Satgas MBG bersama Badan Gizi Nasional (BGN) kemudian melakukan inspeksi ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tempurejo yang menangani distribusi makanan ke sekolah-sekolah tersebut.
Koordinator Wilayah SPPG Kota Kediri, Armeityansyah mengatakan dari hasil investigasi awal, ditemukan sejumlah dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP). Salah satunya terkait waktu memasak yang tidak sesuai ketentuan.
“Salah satunya waktu pemasakan. Harusnya dilakukan di jam 2, tapi tadi setelah dikonfirmasi ternyata lebih awal dari itu,” kata pria yang akrab dipanggil Ian.
Selain itu, tahapan uji organoleptik atau pengecekan kualitas makanan disebut tidak dijalankan secara lengkap.
“Ketika diantarkan di titik penantaran itu ada organoleptik lagi. Ini baru ketika makanan jadi di uji organoleptik. Jadi selanjutnya ini ada yang kelewat,” ujarnya.
Akibat temuan tersebut, operasional SPPG Tempurejo untuk sementara dihentikan sambil menunggu keputusan resmi lebih lanjut dari BGN. Meski begitu, distribusi MBG kepada sekolah penerima manfaat disebut akan dialihkan ke SPPG lain agar program tetap berjalan.
“Yang pasti ditutup sementara, selanjutnya menunggu surat dari BGN Pusat,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









