Kediri – Warga RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri mengembangkan berbagai inovasi digital berbasis swadaya masyarakat untuk meningkatkan keamanan dan pelayanan di lingkungannya. Inovasi tersebut mulai dari aplikasi panic button, sistem peringatan dini gempa dan cuaca ekstrem, hingga layanan transparansi administrasi warga berbasis digital.
Ketua RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Adi Aminoto mengatakan inovasi tersebut lahir dari inisiatif warga untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan maupun kondisi darurat di lingkungan.
“Ini murni inisiatif warga. Kami ingin mengantisipasi sebelum terjadi sesuatu. Jadi warga sudah siap ketika ada kondisi darurat,” ujarnya pada Kamis (23/4).
Salah satu inovasi yang dikembangkan yakni aplikasi Panic Button atau tombol darurat. Melalui aplikasi di telepon genggam, warga cukup menekan tombol ketika membutuhkan bantuan mendesak. Setelah tombol ditekan, sistem otomatis mengaktifkan suara peringatan melalui speaker toa lingkungan dan mengirim notifikasi kepada pengurus RT.
Tak hanya itu, sistem juga terhubung dengan GPS lokasi warga, email, serta grup WhatsApp pengurus sehingga titik lokasi kejadian bisa langsung diketahui secara real time.
“Kalau dulu pakai kentongan, sekarang kami buat lebih efektif memakai panic button. Jadi warga tidak perlu keluar rumah saat ada orang mencurigakan atau kondisi berbahaya. Tinggal tekan tombol di aplikasi, warga lain langsung tahu lokasi yang membutuhkan bantuan,” jelas Adi.
Menurutnya, fitur tersebut bisa digunakan untuk berbagai kondisi darurat seperti tindak pencurian, kebakaran, kebutuhan bantuan medis, hingga situasi darurat lainnya.
Hingga saat ini, di lingkungan tersebut telah dipasang enam speaker toa dan enam kamera CCTV yang tersebar di sejumlah titik lingkungan. Seluruh sistem dibangun dari hasil swadaya masyarakat.
Selain panic button, warga juga mengembangkan aplikasi “Seismik Gayam Siaga” yang terhubung langsung dengan server Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Aplikasi tersebut berfungsi mendeteksi informasi gempa bumi yang dirasakan di wilayah Kediri dan Mataraman. Ketika ada peringatan gempa maupun potensi tsunami dari BMKG, sistem otomatis mengaktifkan sirine dan pengumuman melalui toa lingkungan sebagai langkah kewaspadaan dini.
“Aplikasi ini terhubung langsung dengan data BMKG. Jadi kalau ada gempa yang dirasakan di wilayah Kediri dan Mataraman, sirine otomatis berbunyi dan ada pengumuman suara,” terang Adi.
Inovasi digital tersebut dikembangkan oleh salah satu warga sekaligus pembuat perangkat lunak, Topan Kristianata, bersama pengurus RT dan dukungan warga setempat. Bahkan, Topan juga membuat aplikasi pendeteksi cuaca ekstrem yang akan memberikan peringatan otomatis apabila wilayah Mojoroto masuk dalam peringatan cuaca ekstrem dari BMKG.
Tak hanya fokus pada keamanan, lingkungan RT tersebut juga mengembangkan aplikasi “SiRT” untuk mendukung transparansi keuangan dan pelayanan administrasi warga agar lebih cepat dan terbuka.
Sebagai bagian dari penguatan kebersamaan warga, sistem toa lingkungan juga dimanfaatkan untuk memutar lagu nasional setiap pukul 06.00 WIB serta penyampaian pesan keamanan lingkungan pada pagi dan malam hari.
“Semua ini dibangun dari swadaya masyarakat dan kesadaran bersama bahwa keamanan lingkungan itu penting,” ujar Topan.
Kedepan Topan juga akan mengembangkan tombol fisik panic button di lingkungan warga. Dengan sistem tersebut, warga nantinya dapat mengakses layanan darurat melalui dua cara, yakni menggunakan aplikasi di telepon genggam maupun tombol manual yang dipasang di titik tertentu.
“Tombol manual itu akan memiliki fungsi yang sama, yakni langsung memicu speaker keamanan lingkungan sebagai tanda darurat agar warga sekitar segera memberikan bantuan,” pungkasnya.kin/mg
There is no ads to display, Please add some









