25 Ribu Bibit Kopi Arabika Ditanam BI Kediri Di Tulungagung


Pemimpin Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kediri Djoko Raharto bersama warga persiapan tanam bibit Kopi di Tulunggung. *foto Istimewa

Wahyu Dadi

Kediri- Penanaman 25 ribu Bibit kopi Arabika dilakukan dalam Gerakan Peduli Lingkungan, dan Pengembangan Pariwisata di Desa Sendang dan Pager Wojo, Lereng Wilis Tulung Agung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesua Kediri, bersama dengan KUB Omah Kopi, Petani, Pokdarwis, dan Perum Perhutani.

Dalam kegiatan tersebut BI Kediri juga mengkampanyekan Gerakan Peduli Lingkungan melalui pengolahan dan pemanfaatan pupuk organik limbah ternak yang difermentasi, serta melakukan gerakan pengembangan pariwisata bekerjasama dengan Pokdarwis.

Kepala Kantor Cabang BI Kediri Djoko Raharto mengungkapkan,  Saat ini sudah tersedia bibit kopi sebanyak 100 ribu batang pohon, namun pada tahap ini yang akan ditanam adalah sebanyak 25 ribu pohon yang melibatkan sekitar 100 Petani dengan luas lahan sekitar 1O hektar.


"Lahan yang akan ditanami adalah lahan milik petani dan sebagian ditanam di lahan milik Perhutani. Dengan demikian sampai saat ini bibit Kopi Arabika di wilayah tersebut sudah tertanam lebih kurang 45 ribu pohon, 20 ribu pohon diantaranya sudah mulai berbuah."terangnya, Kamis (8/11/2018).

Lebih lanjut Djoko menuturkan terdapat beberapa hal yang istimewa untuk tahun ini, yaitu, petani mulai memanfaatkan limbah padat dan cair ternak yang sudah difermentasi dengan MA 11 menjadi pupuk organik. Selama ini Petani membuang limbah padat dan cair ternak di sungai atau di kebun tanpa dilakukan fermentasi sehingga mencemari lingkungan dan kontra produktif.

"Selanjutnya melalui edukasi dan pelatihan, petani berhasil dibuka mindsetnya bahwa limbah ternak apabila diolah dengan benar akan menjadi produk bernilai tambah yang ramah lingkungan. " jabarnya

Podarwis juga dilibatkan untuk menggarap dan mempromosikan pariwisata di lokasi penanaman kopi yang memang layak jual sebagai objek pariwisata. Disamping mempromosikan keindahan alam dan budaya setempat, juga dimasukkan materi nilai ekonomis dari hulu hilir budidaya dan produk kopi yang dikombinasikan dengan produk unggulan setempat, yaitu susu sapi, teh dan coklat.

"Dengan terintegrasinya pengembangan potensi produk, budaya dan di dukung potensi alam yang indah, diharapkan pengembangan ekonomi yang partisipatif dan inklusif dapat terwujud."tandasnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »